TRADISI MANDI SAFAR DI DESA RESUN 2026
Dalam upaya menjaga dan melestarikan adat istiadat serta budaya Melayu di Kabupaten Lingga, khususnya di Desa Resun, Pemerintah Desa Resun melaksanakan kegiatan Tradisi Mandi Safar yang dipusatkan di Masjid Al Hidayah Desa Resun, Kecamatan Lingga Utara, pada Rabu terakhir bulan Safar, 12 Agustus 2026.
Tradisi Mandi Safar merupakan salah satu tradisi masyarakat Melayu yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini memiliki nilai budaya, sosial, dan kebersamaan yang tinggi serta menjadi bagian dari identitas masyarakat Melayu. Di Kabupaten Lingga, Tradisi Mandi Safar telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTB) Kabupaten Lingga sejak tahun 2018, sehingga keberadaannya perlu terus dijaga, dipelihara, dan dilestarikan agar tetap dikenal oleh generasi penerus.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen Pemerintah Desa Resun bersama masyarakat dalam mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Selain sebagai upaya pelestarian budaya, pelaksanaan Tradisi Mandi Safar juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Melalui semangat kebersamaan dalam Tradisi Mandi Safar, masyarakat diajak untuk menanamkan dan mengamalkan 9 nilai antikorupsi, yaitu :
- Nilai pertama yang tercermin adalah kejujuran. dalam pengelolaan dana kegiatan, Pemerintah Desa Resun menyampaikan laporan secara terbuka kepada Masyarakat secara transparan. Sikap ini mengajarkan bahwa kepercayaan adalah pondasi kehidupan masyarakat.
- Nilai kedua adalah tanggung jawab. Setiap panitia menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Mereka menyadari bahwa amanah yang diberikan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. tidak ada yang menyalahgunakan wewenang atau mengambil keuntungan pribadi dari kegiatan adat ini.
- Nilai ketiga adalah disiplin. masyarakat mematuhi waktu dan tertib yang telah disepakati. Acara dimulai sesuai jadwal, dan seluruh rangkaian dilaksanakan dengan tertib. Disiplin ini menunjukkan bahwa keteraturan adalah bagian dari budaya yang harus di jaga.
- Nilai keempat adalah kerja keras. Persiapan acara dilakukan jauh-jauh hari. Mulai dari membersihkan lokasi, menyiapkan perlengkapan, hingga menyusun rangkaian doa bersama. Semua dilakukan dengan kesungguhan tanpa rasa mengeluh.
- Nilai kelima adalah sederhana. Tradisi ini dilaksanakan tanpa kemewahan berlebihan. Masyarakat menekankan makna spiritual dan kebersamaan dibandingkan kemegahan acara.
- Nilai keenam adalah mandiri. Warga Desa Resun berupaya mengandalkan kemampuan dan sumber daya sendiri dalam menyelenggarakan tradisi ini.
- Nilai ketujuh adalah berani. Tokoh masyarakat berani mengingatkan apabila terdapat kekeliruan dalam pelaksanaan kegiatan. Keberanian untuk menugur dan menerima kritik menjadi bagian penting dalam menjaga integritas bersama.
- Nilai kedelapan. adalah adil. Setiap warga memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam mengikuti tradisi ini. tidak ada perlakuan istimewa berdasarkan jabatan atau status sosial. semua melebur dalam kebersamaan.
- Nilai kesembilan adalah peduli. Tradisi Mandi Safar dikerjakan bersama, saling membantu tanpa pamrih. melalui kebersamaan, tumbuh empati dan semangat saling membantu.
Dengan demikian, Tradisi Mandi Safar di Desa Resun bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sarana pendidikan karakter. Di tengah tantangan zaman dan ancaman korupsi yang dapat merusak sendi kehidupan, nilai-nilai yang hidup dalam tradisi ini menjadi pengingat bahwa integritas, kebersamaan, dan kejujuran harus terus dijaga. Dari Desa Resun, tersampaikan pesan bahwa budaya lokal dapat menjadi benteng moral dalam membangun masyarakat yang bersih dan berintegritas.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Lingga yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Lingga, Camat Lingga Utara, Ketua MUI Kabupaten Lingga, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Tenaga Ahli Kabupaten Lingga Ibu Marlina Lubis, para tamu undangan, masyarakat Desa Resun, serta mahasiswa KKN STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang.
Kehadiran para unsur pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, aparat keamanan, mahasiswa, dan seluruh masyarakat menjadi bukti dukungan bersama terhadap keberlangsungan adat dan tradisi Melayu di Desa Resun. Antusiasme masyarakat yang mengikuti kegiatan ini juga menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya masih hidup dan terus dijaga dalam kehidupan masyarakat.
Pemerintah Desa Resun menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Desa Resun dan semua pihak yang telah memberikan dukungan serta berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan Tradisi Mandi Safar. Kebersamaan dan partisipasi seluruh elemen masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menjaga warisan budaya agar tetap lestari dari generasi ke generasi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Tradisi Mandi Safar tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan kecintaan terhadap adat istiadat, memperkuat jati diri masyarakat Melayu, serta mengingatkan generasi muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah.
Semoga dengan dilaksanakannya Tradisi Mandi Safar ini, Desa Resun senantiasa diberikan keberkahan, keselamatan, kedamaian, serta dijauhkan dari segala bala dan bencana.
Aamiin Ya Rabbal Alamin.